Penyusun : Tatang Hidayat Narasumber : Prof.Ridwan (Universitas Gunadarma, Depok) Editor : Supriyadi,S.E.,MM (Universitas Pertiwi)
RENUNGAN DIBULAN SEPTEMBER
Di bulan September 2026 ini, ada kegelisahan yang muncul dalam diri penyusun ketika menyaksikan berbagai berita di media tentang perubahan cuaca yang terjadi di berbagai belahan bumi. Kemarau panjang dan cuaca panas telah menimbulkan dampak luas. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, hingga persoalan kesehatan akibat buruknya kualitas udara menjadi kenyataan yang semakin sering kita saksikan. Indonesia pun tidak luput dari kondisi tersebut.
Di tengah situasi itu, perhatian penyusun tertuju kepada tanggal 16 September yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ozon Sedunia. Peringatan ini sebetulnya bisa dimaknai membawa pesan penting agar manusia sebagai penghuni planet bumi semakin peduli terhadap kondisi lingkungan global.
Lapisan ozon merupakan pelindung bumi dari sebagian radiasi ultraviolet (UV) matahari berlebih yang berbahaya. Kerusakan lapisan ozon yang terjadi secara serius di beberapa wilayah dunia telah menjadi peringatan bahwa kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan dari aktivitas manusia di bumi yang memengaruhi sistem atmosfer. Di sisi lain, konsentrasi gas rumah kaca yang meningkat juga berasal dari berbagai aktivitas manusia, sehingga makin menambah terjadinya efek rumah kaca dan mendorong kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi.
Persoalan perlindungan ozon dan perubahan iklim keduanya sama-sama mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Salah satu contoh yang cukup signifikan terhadap kedua hal di atas ada di sekitar kita dan sangat dibutuhkan, terutama oleh masyarakat di perkotaan di manapun berada di muka bumi ini, adalah ketergantungan manusia terhadap AC, refrigerator, dan berbagai mesin pendingin atau pembeku lainnya.
Teknologi ini populer dan sangat dibutuhkan karena bermanfaat untuk kenyamanan, kesehatan, penyimpanan, serta pengawetan pangan. Namun, penggunaan energi yang besar serta jenis refrigeran tertentu ternyata juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana manusia dapat menikmati kemajuan teknologi yang dengan cepat terus berkembang tanpa merusak bumi yang menjadi tempat kehidupannya? Pertanyaan itu menjadi bahan renungan kita semua dalam memaknai peringatan Hari Ozon Sedunia 16 September 2026 ini.
INDONESIA: ANUGERAH TUHAN YANG LUAR BIASA
Sesungguhnya, jika melihat Indonesia dari perspektif anugerah alam, kita seperti sedang melihat sebuah negeri yang memperoleh modal kehidupan yang luar biasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Indonesia berada di kawasan khatulistiwa, sehingga memperoleh energi matahari sepanjang tahun.
Wilayahnya merupakan perpaduan daratan dan lautan yang sangat luas, dengan garis pantai yang sangat panjang, kekayaan laut, hutan tropis, keanekaragaman hayati, tanah yang subur di berbagai wilayah karena aktivitas vulkanik, serta kandungan mineral di dalam bumi yang beragam dan bernilai strategis. Indonesia juga memiliki penduduk dengan populasi yang besar. Jika dikelola dengan baik, penduduk yang banyak tersebut bukan hanya menjadi konsumen, tetapi merupakan modal sumber daya manusia, pasar, tenaga produktif, dan kekuatan inovasi.
Maka muncul pertanyaan yang terus menggelitik: Setelah 81 tahun merdeka, mengapa Indonesia belum sepenuhnya menjadi negara maju yang adil dan makmur, serta belum bisa masuk dalam jajaran sebagai salah satu kekuatan utama dunia dalam pertanian, kelautan, energi, industri, dan berbagai hasil kekayaan alam lainnya?
Lantas pertanyaannya, apakah kita kekurangan sumber daya? Rasanya bukan. Apakah kita kekurangan potensi? Jelas tidak. Mungkin persoalannya terletak pada bagaimana potensi tersebut dikelola. Kegelisahan itulah yang semestinya menjadi bahan pemikiran untuk dicarikan pemecahannya. Guna mendiskusikan hal tersebut, penyusun berkunjung menemui seorang akademisi yang juga relasi lama, yaitu Prof. Ridwan (Universitas Gunadarma), yang berada di Depok di akhir pekan pasca peringatan Hari Ozon Sedunia ini.
SECANGKIR KOPI, BERBICARA TENTANG INDONESIA
Suasana pertemuan berlangsung informal. Tidak ada podium, tidak ada presentasi, dan tidak ada suasana seminar. Hanya obrolan santai antara dua orang sahabat lama yang sama-sama memikirkan tentang makna peringatan Hari Ozon Sedunia 16 September 2026 yang baru berlalu, dikaitkan dengan masa depan Indonesia untuk generasi anak cucu kita kelak.
Menanggapi cerita ringan dari penyusun ini, Prof. Ridwan kemudian mengatakan bahwa persoalan tersebut sebaiknya tidak dilihat secara sektoral, tapi coba dilihat dari sudut pandang tiga unsur: “Air, pangan, energi, dan lingkungan itu saling berkaitan,” ujarnya. Pernyataan sederhana tersebut kemudian membawa pembicaraan kepada sebuah konsep yang kini banyak digunakan dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu WEF (Water-Energy-Food) Nexus.
AIR, PANGAN DAN ENERGI: SEBUAH NEXUS KEHIDUPAN
Secara sederhana, teori WEF Nexus menjelaskan bahwa air, energi, dan pangan memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Pangan membutuhkan air dan energi. Air membutuhkan energi untuk dipompa, diolah, dan didistribusikan. Energi dalam berbagai sistem produksinya juga berkaitan dengan air dan sumber daya alam. Karena itu, ketiganya tidak tepat apabila dalam tata kelola dibuat secara terpisah.
Menariknya, pembicaraan tersebut jadi teringat kepada sebuah hadis Rasulullah SAW:
“Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Ibnu Majah No. 2472).
Dalam konteks kehidupan, air merupakan kebutuhan dasar kehidupan, padang rumput dapat dipahami dalam konteks sumber pangan dan pakan, sedangkan api dapat dimaknai secara luas sebagai sumber energi, demikian ungkap Prof. Ridwan. Tentu hadis tersebut bukanlah teori Nexus dalam pengertian ilmiah modern. Namun, terdapat pesan moral yang sangat relevan jadi bahan renungan bahwa ketiga sumber dasar kehidupan ini memiliki dimensi kepentingan bersama dan harus dikelola secara bertanggung jawab, ujar beliau sambil tersenyum namun terlihat serius.
Pembicaraan kemudian berlanjut kepada menelisik hal yang pernah disampaikan sebagai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu agenda strategis yang mendapat perhatian besar adalah kedaulatan pangan, energi, dan air, yang berkaitan langsung dengan kedaulatan bangsa.
Dalam konteks Teori Nexus, ketahanan atau swasembada pangan, energi, dan air seharusnya tidak ditempatkan sebagai program yang berdiri sendiri. Ketiganya harus dirancang sebagai satu sistem ketahanan nasional:
Ketahanan pangan membutuhkan ketersediaan air dan energi.
Ketahanan energi harus memperhatikan keberlangsungan sumber daya dan lingkungan.
Ketahanan air menjadi fondasi bagi kehidupan masyarakat, pertanian, industri, dan ekosistem.
Dengan demikian, gagasan swasembada pangan, energi, dan air memiliki hubungan yang sangat kuat dengan prinsip WEF (Water-Energy-Food) Nexus.
KAYA ALAM, JANGAN HANYA DIEKSPLOITASI
Menurut Prof. Ridwan, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan kekayaan. “Yang penting adalah konsep pengelolaannya,” kataya.
Hutan tidak boleh hanya dilihat sebagai kayu.
Laut tidak boleh hanya dilihat sebagai ikan.
Tanah tidak boleh hanya dilihat sebagai lahan produksi.
Air tidak boleh hanya dilihat sebagai komoditas.
Mineral tidak boleh hanya dilihat sebagai bahan tambang.
Semuanya adalah bagian dari ekosistem kehidupan. Karena itu, pembangunan Indonesia ke depan seharusnya tidak menggunakan paradigma eksploitasi sebesar-besarnya, melainkan paradigma pemanfaatan yang menjaga keseimbangan dan keberlanjutan ekosistem. Kita mengambil manfaat dari alam, tetapi pada saat yang sama menjaga kemampuan alam untuk terus memberikan manfaat kepada generasi berikutnya.
DARI POTENSI ALAM MENUJU HILIRISASI SAINTEK
EMPAT GENERASI PERGURUAN TINGGI: TEACHING, RISET, UMKM, BERDAMPAK
Pembicaraan selanjutnya masuk pada bagian di mana penyusun teringat pada pemikiran Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara (yang kembali disampaikan secara singkat pada sambutan acara pelantikan Pengurus IA-ITB Jakarta, 3 September 2026 di Hotel Four Seasons Jakarta) mengenai evolusi peran perguruan tinggi.
Secara sederhana, perkembangan generasi tersebut dapat dipahami melalui empat tahapan:
Teaching (Pendidikan): Perguruan tinggi berperan utama dalam pendidikan dan menghasilkan lulusan.
Research (Riset): Kampus berkembang sebagai pusat penelitian dan penghasil ilmu pengetahuan.
UMKM / Entrepreneurship (Kewirausahaan): Pengetahuan dan hasil riset mulai diarahkan menjadi inovasi, kewirausahaan, dan nilai ekonomi.
Berdampak (Impact): Perguruan tinggi tidak berhenti pada pendidikan, riset, atau produk inovasi, tetapi memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan menyelesaikan persoalan bangsa secara nasional maupun global.
Menurut diskusi santai dengan Prof. Ridwan tersebut, tahap keempat inilah yang sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan jurnal. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Kampus harus mampu menjawab pertanyaan: Apa dampak ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita hasilkan bagi masyarakat?
KAMPUS HARUS BERTEMU DESA: ESG SEBAGAI KPI KEPEMIMPINAN
Sebagai sebuah negara yang luas, Indonesia memiliki ribuan desa dan kelurahan dengan potensi serta persoalan yang berbeda. Karena itu, hilirisasi saintek harus sampai ke tingkat masyarakat. Di sinilah POSYANTEK (Permen Desa & PDTT No. 23/2017) dapat memainkan peran strategis sebagai salah satu simpul penerapan dan pelayanan teknologi tepat guna di desa/kelurahan. Kampus menghasilkan pengetahuan. Lembaga riset menghasilkan inovasi. Industri dan UMKM mengembangkan produk. POSYANTEK membantu mendekatkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah menciptakan kebijakan dan ekosistem pendukung. Jika seluruhnya terhubung, maka terbentuk sebuah ekosistem: : Kampusَ →َ Riset َ →َ Teknologi َ →َ Posyantek َ →َ Desa/UMKM َ →َ Industriَ →َ Produk َ → َ Masyarakat َ → َ Dampak. Inilah bentuk nyata hilirisasi saintek yang berdampak NASIONAL. Prof. Ridwan juga menyampaikan gagasan penting mengenai tatakelola masa depan, bahwa ukuran keberhasilan seorang pemimpin atau sebuah lembaga tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi atau capaian fisik. Prinsip ESG — Environmental, Social and Governance — perlu semakin diperkuat sebagai bagian dari Key Performance Indicator (KPI) bagi pimpinan lembaga, organisasi publik maupun dunia usaha. Setiap kebijakan seharusnya mampu menjawab tiga pertanyaan:
Environmental: Apakah menjaga lingkungan?
Social: Apakah memberikan manfaat bagi masyarakat?
Governance: Apakah dilaksanakan dengan tata kelola yang baik, transparan, dan bertanggung jawab?
Dengan ukuran seperti itu, papar beliau, maka pembangunan tidak hanya mengejar hasil jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan.
PENUTUP: PESAN UNTUK GENERASI PENERUS (ANUGERAH YANG HARUS MENJADI AMANAH)
Menjelang berakhirnya bincang-bincang sore itu, Prof. Ridwan berpesan agar generasi penerus tidak kehilangan optimisme. Justru berbagai persoalan bangsa harus dilihat sebagai ruang untuk berkreasi. Indonesia membutuhkan generasi yang optimistis, berani, bersemangat, kreatif, dan inovatif—generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta teknologi; tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi produsen; tidak hanya menjual sumber daya alam, tetapi menciptakan nilai tambah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dan yang terpenting, pesan beliau yang memperkuat pemikiran Prof. Tatacipta Dirgantara (Rektor ITB) di atas: “Jangan berhenti pada inovasi. Inovasi harus menghasilkan dampak.”
Ketika penyusun pamit meninggalkan tempat pertemuan, renungan makna peringatan Hari Ozon Sedunia 16 September 2026 membawa pulang sebuah keyakinan baru bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal. Kita memiliki matahari, air, tanah, laut, hutan, mineral, biodiversitas, dan manusia. Yang diperlukan adalah konsep pengelolaan yang tepat, pemimpin yang kompeten dan amanah, serta generasi yang berani mengubah ilmu pengetahuan menjadi teknologi dan teknologi menjadi dampak.
Kemarau panjang, kekeringan, dan karhutla yang masih kita saksikan hari ini seharusnya menjadi pengingat bahwa manusia tidak dapat hidup di luar sistem alam. Begitu pula peringatan Hari Ozon Sedunia setiap 16 September seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab terhadap bumi.
Air, pangan, dan energi adalah kebutuhan dasar. Lingkungan adalah penyangga kehidupan. Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah alat untuk meningkatkan nilai tambah. Dan kepemimpinan yang baik adalah kunci agar semuanya dikelola untuk kepentingan rakyat.
Maka, dalam peringatan Hari Ozon Sedunia 16 September 2026, mungkin pesan yang paling sederhana adalah:
“Indonesia tidak cukup hanya kaya sumber daya alam. Indonesia harus menjadi kaya ilmu pengetahuan, kaya teknologi, kaya inovasi, dan kaya nilai tambah—dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem sebagai sumber kehidupan.”
Swasembada pangan, energi, dan air harus dibangun sebagai satu kesatuan Nexus. Perguruan tinggi harus bergerak dari teaching dan research menuju kewirausahaan dan akhirnya menjadi kampus yang berdampak. Riset harus dihilirisasikan, POSYANTEK di desa/kelurahan harus diperkuat, UMKM dan industri harus naik kelas, dan setiap pemimpin harus bekerja berdasarkan kompetensi, merit, integritas, serta ukuran ESG.
Jika semua itu dapat disinergikan, anugerah alam Indonesia tidak berhenti menjadi kekayaan yang kita warisi, tetapi berubah menjadi kesejahteraan yang kita ciptakan dan amanah yang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
“Bumi adalah tempat kita hidup, Indonesia adalah amanah yang kita kelola, dan generasi mendatang adalah pihak yang akan menilai apakah amanah itu telah kita jaga.”
— (TH)