KATEGORI : Opini / Lingkungan & Teknologi

PENULIS :  Tatang Hidayat (Pemerhati AC ‘Herlink’ & Pegiat Inovasi TTG/Posyantek Kota Bekasi)

NARASUMBER : Epen Supendi (Akademisi UMBK & Cendekiawan Kota Bekasi)

EDITOR : Supriyadi

Sinyal Bahaya dari Langit dan Bumi

Di penghujung peringatan HUT RI ke-81 pada Agustus 2026 ini, planet Bumi seakan mengirimkan sinyal bahaya yang nyata. Kita menyaksikan langsung berita kekeringan panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif, serta lonjakan suhu udara yang ekstrem.

Namun, ancaman yang tidak kalah dahsyat juga datang dari kerusakan yang tidak kasat mata. Jauh di lapisan atmosfer, terjadi penipisan lapisan ozon dan pemanasan global akibat pelepasan zat kimia buatan manusia yang bertahan hingga ratusan tahun.

Menyongsong Hari Ozon Internasional pada 16 September 2026 dengan tema global “Aksi global untuk planet yang lebih sejuk – Merayakan 10 tahun pendinginan berkelanjutan di bawah Amandemen Kigali”, momentum ini harus menjadi titik balik bagi kita semua. Langkah penyelamatan bumi bisa dimulai secara mandiri dari ruang kerja dan rumah kita melalui tata kelola mesin pendingin ruangan (AC) yang tepat.

Bahaya Laten ‘Freon’ Sintetik pada AC

Para peneliti dunia telah lama mempublikasikan bahwa bahan pendingin atau ‘Freon’ sintetik pada AC menyimpan potensi bahaya tersembunyi. AC umumnya menggunakan dua kelompok zat berbahaya:

  • Kelompok HCFC (Hydrochlorofluorocarbon): Mengandung unsur Khlor ($Cl$) yang merusak ozon dan Fluor ($F$) yang memicu pemanasan global.

  • Kelompok HFC (Hydrofluorocarbon): Mengandung unsur Fluor ($F$) yang bertindak sebagai Gas Rumah Kaca (GRK), dengan kekuatan memicu pemanasan global ratusan kali lebih kuat daripada Karbon Dioksida ($CO_2$).

Ekses pelepasan gas-gas ini akibat kebocoran atau pemeliharaan yang tidak tepat akan terbang ke angkasa, merusak lapisan pelindung bumi, dan memperparah krisis iklim.

Tinjauan Teologis: Krisis Ekologi dalam Al-Qur’an

Menanggapi krisis ini, Epen Supendi, seorang akademisi Universitas Muhammadiyah Bekasi-Karawang (UMBK) sekaligus Cendekiawan di Kota Bekasi, meninjau persoalan ini melalui kacamata teologis Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum Ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Frasa bima kasabat aidin naas menjelaskan secara presisi bahwa krisis pemanasan global terjadi akibat ulah manusia demi mengejar kenyamanan egoistis jangka pendek. Krisis ini diturunkan sebagai teguran agar umat manusia melakukan pertobatan ekologis.

Solusi Praktis: Metode Cuci AC ‘Herlink’ (Hemat Energi & Ramah Lingkungan)

Langkah paling mudah di tingkat rumah tangga adalah mencuci AC secara berkala setiap 3–4 bulan sekali. AC yang kotor membuat kompresor bekerja ekstra berat dan memicu pemborosan energi listrik.

Kelalaian ini mendapat peringatan keras dalam Surah Al-Isra’ Ayat 27 yang menyebut pemboros sebagai saudara setan. Lonjakan konsumsi listrik rumah tangga turut memperparah emisi karena mayoritas pembangkit listrik nasional masih menggunakan energi fosil.

Untuk mengatasinya, pastikan Anda menggunakan teknisi yang kompeten dengan metode AC ‘Herlink’:

  1. Bukan Sekadar Bersih: Teknisi menunjukkan data perbandingan ampere (arus listrik) sebelum dan sesudah dicuci.

  2. Standar Pabrik: Nilai ampere harus kembali ke standar nameplate AC.

  3. Efisiensi: Memberikan penurunan konsumsi energi listrik secara empirik di kisaran 10%.

Solusi Sempurna: Konversi ke Hidrokarbon Lokal

Sebagai langkah penyempurnaan, kita perlu mengganti bahan pendingin (retrofitting) ke Refrigerant Alami Hidrokarbon (HCR) buatan dalam negeri:

  • R-22 (HCFC) dikonversi ke R-290 (Propana murni).

  • R-410A & R-32 (HFC) dialihkan ke R-1270 (Propilena murni).

Langkah konversi massal ini tidak hanya memangkas tagihan listrik hingga 20% atau lebih, tetapi juga menghemat devisa negara dan mengurangi ketergantungan pada impor zat kimia asing.

Refleksi: Menuju Masa Depan yang Lebih Sejuk

Berdasarkan Amandemen Kigali (2016), dunia berkomitmen memangkas penggunaan HFC hingga 80-85% secara bertahap. Di Indonesia, target penurunan ini dijadwalkan rampung pada tahun 2045 untuk mencegah kenaikan suhu global hingga $0,4^\circ\text{C}$ pada tahun 2100.

Sudah 81 tahun kita meneriakkan “Merdeka!” dan lama mendengungkan “Cintai Produk Dalam Negeri”, namun penggunaan freon sintetik impor masih mendominasi. Kini saatnya beralih ke freon natural buatan lokal dan jadikan AC Anda berstandar ‘Herlink’.

Menjaga bumi dari kerusakan dan menjauhi perilaku boros energi adalah wujud nyata iman kita demi mewujudkan warisan bumi yang lebih baik bagi generasi penerus. (TH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *